Beranda » Pentingnya Penggunaan Mikroorganisme Referensi Standar dalam Akreditasi ISO 17025
Pentingnya Penggunaan Mikroorganisme Referensi Standar dalam Akreditasi ISO 17025

Di era globalisasi perdagangan dan pengetatan regulasi kesehatan, data yang dihasilkan oleh sebuah laboratorium pengujian tidak lagi dapat berdiri sendiri berdasarkan klaim sepihak. Publik, lembaga pemerintah, dan mitra bisnis menuntut adanya jaminan mutu absolut bahwa hasil uji mikrobiologi akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah standar internasional seperti ISO/IEC 17025 (Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Kalibrasi) mengambil peran sentral. Salah satu pilar utama untuk memenuhi persyaratan ketat dalam standar ini adalah penggunaan mikroorganisme referensi standar.
Bagi laboratorium mikrobiologi, bahan acuan biologis ini bukan sekadar alat bantu kerja, melainkan instrumen hukum dan saintifik yang membuktikan bahwa seluruh ekosistem pengujian berfungsi tanpa cacat. Artikel ini akan membahas konsep dasar, regulasi, dan implementasi yang tepat terkait penggunaan bahan acuan tersebut dalam kerangka akreditasi internasional.
Definisi dan Konsep Keterlacakan Biologis
Dalam bidang metrologi dan kalibrasi fisik (seperti berat dan suhu), konsep keterlacakan (traceability) sangat mudah dipahami; timbangan dikalibrasi menggunakan anak timbangan standar yang merujuk pada standar primer fisik di lembaga metrologi nasional. Namun, dalam mikrobiologi, “alat ukur” yang diuji adalah benda hidup.
Mikroorganisme referensi standar didefinisikan sebagai strain murni bakteri, jamur, atau virus yang karakteristik genotipe dan fenotipenya telah diidentifikasi dan dikonfirmasi secara komprehensif. Strain ini harus diperoleh dari koleksi kultur nasional terakreditasi yang bertindak sebagai pemegang standar primer biologis, misalnya NCTC (National Collection of Type Cultures) di Inggris atau koleksi internasional bereputasi serupa. Dengan menggunakan mikroba ini, laboratorium membuktikan bahwa mikroorganisme target yang sedang diteliti (misalnya untuk uji kontrol kualitas) bereaksi dan tumbuh persis seperti apa yang dideskripsikan oleh standar global.
Aturan ISO 17025 Terkait Bahan Acuan Bersertifikat
Klausul dalam standar ISO 17025 secara eksplisit mewajibkan laboratorium untuk memastikan keabsahan hasil pengujian mereka. Laboratorium diharuskan memvalidasi metode analitik, mengevaluasi ketidakpastian pengukuran, serta memastikan jaminan kualitas operasional melalui penggunaan Certified Reference Materials (CRM) atau bahan acuan yang sah.
Jika sebuah laboratorium melakukan uji deteksi patogen pada sampel air minum namun tidak pernah memvalidasi media agar yang digunakan dengan kultur kontrol yang tersertifikasi, maka hasil negatif pada sampel air tersebut tidak dapat dipercaya. Hasil negatif palsu bisa jadi disebabkan oleh media yang rusak dan tidak mampu menumbuhkan bakteri, bukan karena air tersebut benar-benar bersih. Oleh sebab itu, asesor akreditasi ISO 17025 akan selalu mengaudit log pemakaian referensi standar ini beserta sertifikat analisis (CoA) yang mendampinginya.
Risiko Penggunaan Isolat Liar (Wild Type)
Sebagian laboratorium yang belum memahami prinsip jaminan mutu secara utuh sering kali mencoba menekan anggaran dengan menggunakan bakteri yang diisolasi dari sampel lingkungan atau pasien (isolat wild type) untuk dijadikan kontrol positif. Praktik ini sangat dilarang dalam kerangka ISO 17025.
Isolat liar memiliki sifat genetik yang tidak stabil dan belum dikarakterisasi secara menyeluruh. Selain itu, bakteri liar sangat rentan mengalami mutasi dan kehilangan plasmid atau faktor virulensinya apabila ditanam secara berulang-ulang di media buatan laboratorium. Akibatnya, reaksi biokimianya bisa berubah sewaktu-waktu dan menyebabkan kegagalan dalam proses verifikasi metode analitik.
Manajemen Pemeliharaan dan Aturan Sub-kultur
Standar internasional mengatur ketat batas maksimal sub-kultur mikroorganisme dari koleksi aslinya. Pharmacopeia dan pedoman mikrobiologi umum menetapkan batas maksimal 5 kali sub-kultur (passages) dari strain induk referensi. Aturan ini diciptakan untuk memitigasi risiko terjadinya mutasi kumulatif (phenotypic drift) yang mengubah sifat dasar sel.
Manajemen stok secara mandiri (membuat kultur stok induk dan kultur kerja) memerlukan dedikasi sumber daya manusia yang tinggi, protokol cryopreservation yang mahal (penyimpanan di bawah suhu -70 derajat Celsius), dan ketelitian administrasi yang presisi. Oleh karena itu, pengadaan produk komersial yang sudah berstatus turunan pertama (first generation) sangat direkomendasikan karena praktis dan menghapuskan variabel kesalahan preparasi manusia.
Pertimbangan Investasi untuk Akreditasi
Memperoleh dan mempertahankan akreditasi ISO 17025 menuntut laboratorium untuk memandang pengadaan referensi kontrol kualitas sebagai aset strategis. Meskipun departemen pengadaan harus mengkalkulasi harga bakteri staphylococcus aureus bersertifikat beserta strain standar pengujian lainnya secara teliti, nilai dari akurasi yang dihasilkan jauh melampaui biaya pengadaan tersebut. Laboratorium yang gagal menunjukkan kepatuhan terhadap standar bahan acuan akan kehilangan status akreditasinya, yang secara otomatis memutus kredibilitas bisnis dan kepercayaan klien mereka. Kepastian hukum dan saintifik yang ditawarkan oleh strain standar adalah pondasi yang tidak bisa ditawar dalam ekosistem laboratorium modern.
Latest Post
Tentang
Bawara Jaya Scientific merupakan perusahaan distributor alat laboratorium , reagent dan consumable. Kami menawarkan Kerjasama secara berkelanjutan dengan pelanggan, karena kami tidak hanya menyediakan alat dan bahan, namun kami juga melayani pelatihan, instalasi, Kontrak pemeliharaan alat.
Quick Link
- Hubungi Kami
- Privacy Policy
- Terms of Services
- Legal Agreement
Informasi
Follow Us
© 2026 PT Baswara Jaya Scientific
Powered by Komersial Lab
